Anakku Karunia Besar dari Allah

Kamis, 11 Juli 2013

Bulan Ramadhan; Moment Awal Kehidupan Mandiri

Yukova Nathaniel &Ibu - Rumah Baru
Yukova Nathaniel &Ibu - Rumah Baru

Sudah beberapa hari saya off menulis blogs Yukova.com, banyak hal yang terjadi namun hampir semuanya kembali pada sebuah titik dimana anak kami Yukova Krisna Nathaniel telah menjadi bagian terpenting dalam kehidupan kami dan telah menyelesaikan tugasnya sebagai seorang anak yang malah mendidik kami serta bahwa anak kami telah menjadi bagian dari Rencana Allah Bapa untuk membentuk kami menjadi bejana seturut dengan kehendak-Nya. Pada moment Bulan Ramadhan ini teringat akan beberapa hal yang telah kami lalui bersama:

Bulan Ramadhan adalah bulan kesembilan dalam penanggalan Hijriyah, sebuah bulan suci bagi saudara-saudara Umat Muslim menunaikan ibadah puasa yang menjadi kewajiban setiap muslim. Hari ini adalah hari pertama Bulan Ramadhan 1434H, dan banyak saudara kiri-kanan yang sudah menunaikan ibadah puasa. Bagi kami sekaluarga Bulan Ramadhan adalah bulan dimana moment yang masih sangat teringat ketika 5 tahun yang lalu saat kami bersama pindah dari "Pondok Metua Indah" ketempat baru, rumah kami sendiri hasil jerih payah kami sendiri untuk membina keluarga. Sebuah anugerah apa yang kami cita-citakan untuk membina rumah tangga sendiripun terwujud, sehari sebelum Bulan Ramadhan saat itu kami pindah tepatnya pada awal bulan September 2008. Sebelum pernikahan memang kami sudah sempat untuk mencari-cari rumah tinggal namun belum ketemu tempat yang cocok dengan hati, hingga akhirnya pada bulan Maret 2008 relalisasi rumah telah selesai. Dan pada saat itu istri masih dalam kondisi hamil Nathaniel maka kami memutuskan untuk tidak pindah rumah dahulu.

Mbah Putri & Yukova Nathaniel
Yukova & Mbah Putri
Saat kami berpindah ke tempat baru di Perumahan Delta Mandala II saat itu penghuni belum sebanyak saat ini yang bisa dibilang hampir semua terisi. Dahulu hanya beberapa rumah dan rumah kami adalah rumah yang diampit beberapa rumah kosong, sungguh sebuah berkat yang begitu indahnya disatu sisi usia Nathaniel saat itu 40 hari-an dan disisi lain kami akan menempuh kehidupan mandiri dirumah baru kami. Moment hari pertama dirumah adalah moment yang indah karena pada saat itu sebuah ibadah ucapan syukur sederhana dan yang satu-satunya ibadah syukur dirumah yang dirasakan oleh anak kami yukova, ibadah syukur tanda penyerahan seluruh isi rumah kedalam tangan perlindungan Allah Bapa untuk dapat menjadi tempat kami bertumbuh dan bersinar serta menjadi jalan berkat bagi yang lain.

Hari pertama Bulan Ramadhan tidak lepas dari petasan yang meledak-ledak didekat rumah, namun bersyukur si kecil tidak terlalu terganggu suara ledakan. Sepertinya Nathan mengikuti ayahnya ketika dia tidur suara-suara tak menjadi hambatan kami untuk beristirahat tenang alias ngebo :p. Sebulan berlalu maka moment lebaranpun tiba dan saat itu kami hanya berjalan-jalan didekat-dekat rumah, kalau tidak salah mall pertama yang dikunjungi anak kami adalah Cito (City Of Tomorrow) di Bundaran Waru. Saat itu tidak banyak kendaraan yang lewat malah bisa dibilang Surabaya begitu sepinya tidak seperti lebaran tahun yang lalu yang tidak jauh berbeda dengan Surabaya/Sidoarjo ketika hari kerja.

Bulan pertama dirumah kami tidaklah sendiri karena ada Ibu Wati (Adik dari Bapak Lampung) yang saat itu berjanji untuk menemani kami mendidik anak kami, selain itu ada Mbah Putri (Ibu Lampung) yang saat itu selesai mengatarkan Om Angkie (Adik) untuk ikut di Sidoarjo guna melanjutkan pendidikan dibangku kuliah. Tidak lebih dari dua bulan Ibu Wati bersama kami; dia kembali karena ada kepentingan keluarganya sendiri sedangkan Mbah Putri sudah pulang ke Lampung dan tinggal kami berempat dirumah. Ada kebingungan karena tidak ada orang lain yang bisa membantu merawat sikecil, tetapi kami yakin bahwa kami bisa melakukan sendiri. Ah terkadang kami iri dengan orang lain yang ditunggu oleh orang tua-nya ketika ada cucu yang masih kecil, itu tidak berlaku dalam keluarga kecil kami.
Dari semuanya itu kami diajarkan untuk tidak terlalu bergantung pada orang lain  dan senantiasa bersyukur atas anugerah yang diberikan Tuhan. Ada kesukaan ada kedukaan,  apakah kita hanya bisa bersyukur saat bersuka? Bukankan lebih indah ketika kedukaan namun kita tetap bersyukur.
Share:

Popular Posts